RSS
Web hosting
Tampilkan postingan dengan label Artikel Seni Rupa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel Seni Rupa. Tampilkan semua postingan

CARA MEMULAI JAHIT (FESTON), MENYAMBUNG BENANG DAN MENGAKHIRI JAHITAN


Lagi blank nih...jadi tanpa prolog, tanpa basa-basi...langsung ke pokok masalah.
Trik 1, memulai jahit feston.
a. Siapkan potongan kain flanel yang akan di jahit


b. Mulai dengan tusukan pada lembar atas flanel...


c.  Lakukan seperti foto... tusukan kedua pada lembar flanel bawah dengan arah tusukan, dari bawah ke atas


d. Tariiikk... posisi benang panjang ada di sebelah kanan.... (kiri di foto). Tusukan awal ini untuk menyembunyikan simpul benang....

 e. Selanjutnya lebih gampang... Tinggal tusuk tembus ke bawah...


f. Taruh benang di bawah jarum...tarik lagi... begitu seterusnya. Jahitan dari kiri ke kanan atau melawan arah jarum jam...



 Mudah bukan...? Happy sewing...

Trik 2, menyambung benang di tengah-tengah jahitan karena putus atau kurang panjang.

a.  Benang kurang panjang untu meneruskan jahitan? Gampang, sambung aja... ^^v

 b. Siapkan benang panjang untuk sambungan. Simpul kedua benang (benang pendek dan benang sambungan). Simpulnya simpul yang biasa kita pergunakan dalam kehidupan sehari-hari...

 c. Usahakan simpul mepet di kain flanel....jangan sampai ada jarak dengan kain flanel.


 d. Buat simpul sekali lagi agar kuat...

 e. Ingat ya...simpul harus mepet dengan kain flanel... Hasilnya seperti ini...


f. Satukan kedua benang pendek tersebut....


Potong secukupnya (jangan terlalu pendek)....



g. Masukkan ujung-ujung benang pendek tadi di antara kain flanel...

h. Mulai lagi jahitan seperti biasa...



i. Hasilnya seperti ini....

 Bisa kan??.... Pasti bisa ^^d

Trik 3, mengakhiri jahitan feston

a. Tusuk terakhir jahitan.....


b. Tusukkan pada jahitan pertama (jahitan di depan tusukan terakhir)...tusuk feston, seperti biasa...


c. Jadinya tusukannya numpuk....


d. Lakukan tusukan seperti foto, ambil sedikit ujung kain flanel...



e. Tarik benang dari tusukan tadi...tapi jangan ditarik hingga habis.

 f. Masukkan jarum ke lubang yang tersisa... lakukan dua kali... (maaf, di bagian ini saya susah menjelaskan. Semoga teman-teman bisa memahami lewat fotonya)


g. Jadinya seperti ini... tarik benang hingga habis, mepet di kain flanel...




h. Tusukkan jarum sekali lagi di tempat simpul terakhir....

 i. Keluarkan jarum di tempat lain, tarik perlahan hingga simpul terakhir masuk ke dalam flanel/tidak terlihat dari luar.


j. Potong sisa benang.



j. Hasilnya seperti ini... Tidak terlalu kelihatan bukan?


Selesaaiii..... \\^^//
Nantikan tutorial berikutnya.... Terimakasih sudah mampir... Semoga berkah dan bermanfaat untuk saya dan teman-teman...




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MOBILKU BAGUS YA?


Pemahaman yang lumayan detail tentang mobil membuat gambar yang diciptakan menjadi menarik. Variasi dan modifikasi yang diciptakan punya daya tarik tersendiri. Seperti mobil karya Dominique Glenn (di samping kiri) yang cukup canggih dengan dilengkapi persenjataan pada bagian depannya. Kemudian Pada bagian pintu digital serta dilengkapi dengan morse-morse tertentu untuk membukanya Glenn menjelaskan. Lain lagi mobil Rendy Wibisono (di bawah), Berjenis bemo dengan roda tiganya. Yang lebih terkesan sebagai mobil petualang sejati, Rendy menuturkan pada bagian atas bisa menyimpan skoci, Asyik dan lucu juga mobilnya, Ya? Richard Nata memilih mobil dengan 3 pasang roda, bagian depan mobil terlihat panjang, Karena itu dilengkapi dengan roda tambahan.
Gian lebih menyukai mobil yang cocok di daerah pegunungan, Di desain jantan sejantan kuda yang lagi berlari di padang rumput. Lalu mobil mungil Futuristik buatan Hugo pantas digunakan diperkotaan. Menarik bukan? Ayo siapa yang mau buat mobil seperti mereka!
Jourdan lebih menyukai ciptakan mobil sport, Kata Jourdan kedua mobilnya bermerek Ford dan BMW. Kalau Juveus Mayo menggemari mobil yang bisa digunakan untuk perang, karena mobilnya dilengkapi senjata yang cukup besar bisa untuk menghancurkan musuh, Ehem……….. Ngeri juga ya!
Kalau yang satu ini beda dengan yang lain, Cristiano G, Anggrek ciptakan mobil pengantin, yang dihiasi dengan bunga- bunga yang Indah, Clyve Widjaya diciptakan mobil yang berfungsi sebagai Mobil transportasi, yaitu taksi Derlan menggambar mobil dengan bentuk klaslk, Cocok digunakan untuk keliling kota dan berlibur di akhir pekan, Atau bagi mereka yang Ingin bernostalgia. Dan Clarence, Dia tidak menyukai gambar mobil berjenis sedan soalnya kalau sedan itu sempit, katanya memberi alasan. Katanya memberi alasan. Lalu Samuel ciptakan mobil sederhana yang nyaman dikendarai. Bagaiman bagus-bagus kan? Kerja keras mereka untuk menuangkan ide kreatifitas patut dihargai seperti apapun hasilnya semua itu kita apresiasi sebogal karya yang luar biasa.(Sketsa Magenta28 April 2006)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MENANAMKAN SIKAP KREATIF PADA ANAK SEJAK DINI



Sikap kreatif cenderung dilupakan. Kegiatan kreatif sering dianggap menjadi sesuatu yang kurang bermanfaat, buang-buang waktu. Sementara apabila kegiatan itu berkaitan dengan yang berhubungan dengan logika, seperti belajar baca dan berhitung. Menjadi keharusan dalam program yang teratur Anak dituntut tunduk dan patuh.
Sebenarnya kegiatan yang berkaitan dengan kreatifitas (intuisi) dan logika seharusnya dapat berjalan seiring sehingga dapat meciptakan anak yang pintar sekaligus kreatif.
Lalu apakah pengertian kreatifitas itu? Pertama berdasarkan data atau informasi yang ada, mampu menemukan berbagai kemungkinan jawaban terhadap suatu masalah. Kedua kemampuan yang mencerminkan kelancaran, keluwesan, orosinalitas dalam berfikir, serta kamampuan untuk mengolaborasi (memperkaya mengembangkan,memperinci) gagasan.
Belahan otak kanan seperti apakah? Non verbal, intuisi, holistik, dan imajinatif .
Sikap kreatif akan berdampak positif dalam kegiatan anak. Sikap terbuka pada pengalaman baru, kebebasan bereksplorasi,menghargai fantasi, fleksibel, minat terhadap aktivitas kreatif, percaya pada gagasan sendiri serta keterlibatan diri.
Beberapa tips untuk orang tua agar anak menjadi kreatif adalah (1) ciptakan lingkungan rumah dimana anak merasa aman untuk mengungkapkan pendapat perasaan, dan sikapnya (ada kebebasan), (2) orang tua harus menghormati anak sebagai individu,menghargai keunikan anak (respek), (3) kedekatanemosi yang sedang-sedang saja, (4) hargai prestasi bukan angka (rangking), (5) orang tua harus menjadi model, (6) orang tua menunjang kegiatan anak, (8) orang tua menjadikan anak mandiri dan dapat mengambil keputusan, (9) orang tua sebagai fasilitator, (10) orang tua memberi pujian pada anak dan kurangi hukuman, (11) sering komunikasi dua arah dengan tehnik bertanya agar muncul rasa ingin tahu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MEMBANGUN KREATIVITAS DENGAN MENGGAMBAR

Seorang anak kecil sedang asyik menggambar tentang binatang yang pernah dilihatnya di Taman Safari. Tidak beberapa lama sebuah gambar tercipta. Sebuah gambar yang bercitra anak-anak polos dan lugas tanpa terikat oleh pola kewajaran serta logika. Bebas begitu kira-kira kata-kata yang tepat. Bebas bukan berperilaku semaunya tetapi bebas dari bayangan nilai maupun pola yang telah biasa diterapkan secara umum dan menjadi baku dalam bentuk patokan-patokan standart. Dari kebebasan seperti inilah sebuah jiwa menjadi kreatif. Dari kebebasan semacam inilah kita memahami lukisan anak. Jadi kita tidak menilai dengan ukuran yang kita punyai, tidak menilai dengan kacamata kita, melainkan dengan kaca mata batin anak. Begitu uraian Rudy Isbandi dalam bukunya seni lukis anak.
Pada sisi yang lain seringkali kreativitas yang ditampilkan orang tua menjadi boomerang ketika seorang anak menjadi obyek saja. Wees Ipnu Savy atau kak Wees, pendongeng pernah berujar, “aktifitas yang niatnya mulia, yaitu memancing kreatifitas anak, seringkali diterjemahkan sebagai sebuah paksaan. Tanpa sadar kreatifitas yang diharapkan bisa muncul malah terbalik. Anak tak ubahnya robot kecil yang dikendalikan orang tua. Aktivitas yang dilakukannya atas selera orang tua. Sementara si anak tidak bisa menikmati aktifitasnya.
Membangun kreatifitas hendaknya disikapi sesuai dengan porsinya. Mengedepankan nilai yang benar-benar atas nama kreatifitas belaka. Bukan malah membenamkan nilai kreatifitas itu sendiri. Menciptakan anak kreatif mungkin itulah keinginan semua orang tua, tetapi kita harus sadar segala sesuatu dengan kewajaran akan menghasilkan kebahagiaan tiada tara bagi si an

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

JAKARTA BIENNALE 2009:PERHELATAN SENIRUPA INTERNASIONAL, SANGAT FENOMENAL DI MASA KEKINIAN

Oleh : Hotma L Tobing
Kegiatan pameran Jakarta Biennale 2009, arena mengangkat tema kota. Pada kesempatan ini, para perupa membuat baliho, mural atau marka-marka di berbagai sudut Jakarta dan bukan berbentuk iklan atau pesan pemerintah yang marak kita lihat di masa masa sekarang ini.
Zona Biennale 2009 kali ini, dimulai dengan beberapa kegiatan seni yang menghampiri mayarakat melalui Zona Pemahaman dan Pertarungan. Karya para seniman, hasil kolaborasi antara prakatisi antardisiplin seni (arsitek, designer grafis, fotografer dan lain-lain) setrta mahasiswa, dihadirkan di ruang publikasi seperti pusat perbelanjaan, sampai pada tembok papan reklame dan taman. Sebuah terobosan baru yang tidak dilihat di Biennale sebelumnya.
“Jakarta Biennale 2009 arena menghadirkan pameran, bertempat di Galeri Nasional dan Grand Indonesia melalui Zona cair dengan materi karya seniman kontemporer dari berbagai negara. Sebuah pameran berskala inernational, membantu kita mengenal kebudayaan bangsa lain. Lebih khusus lagi melihat bagaimana perkembangan senirupa dunia bisa diperbandingkan dengan seniman karya-karya dari tanah air,’ demikian disampaikan M. Firman Ichsan, Direktur Eksekutif Jakarta Biennale ’09.
”Tema arena menyadarkan masyarakat kita tentang masyarakat kota Jakarta. Siapa pun mereka, mahluk individu dan sosial yang berada dalam berbagai arena, tidak semata terfokus pada aspek ekonomi dan fisik, melainkan memerlukan ruang-ruang publik dan budaya untuk menunjukkan jati dirinya. Kesenian dengan berbagai gagasan yang reflektif, kritis dan kreatif, diharapkan mampu membuka ruang-ruang baru yang lebih inspiratif dan partisipatif dan toleran dalam kehidupan,” demikian Tubagus ”Andre” Sukmana kepala Galeri Nasional Indonesia, dalam kata sambutannya.
Perupa dari belahan dunia
Sangat menyenangkan melihat kesibukan belum lama ini di Galeri Nasional Indonesia (GNI) dan Plaza Grand Indonesia. Dua tempat diselenggarakannya pameran Zona Cair Jakarta Biennale 2009, mengundang baik seniman lokal maupun internasional. Sebanyak 39 orang seniman berpameran dan dipecah dalam dua tempat. Para seniman Indonesia antara lain: Eko Nugroho, Handiwirman Saputra, Iswanto Hartono, Jompet, Paul Kadarisman, R. E. Hartanto, Reza Afisina, The Secret Agents, Sekar Jatiningrum, Tintin Wulia, Wimo Ambala Bayang, Wiyoga Muhardanto, Rudi Mantofani dan Video Babes. Seniman internasional yang dipilih sebagian berasal dari kawasan regional Asia Tenggara, seperti: Vincent Leong, Nadiah Bhamadaj, Khairuddin Hori, Roslisham Ismail, Ming Wong, Porntaweesak Rimsakul, Poklong Anading, Hoang Duong Cam, Montri Toemsombat, Sherman Ong, Tawatchai Puntusawasdi, Thaweesak Srithongdee dan Yason Banal serta sebagian dari Jepang, Inggris, Belanda, dan sebagainya. Para seniman internasional dari luar Asia Tenggara, mereka yang pernah melakukan residensi atau berkarya di kawasan Asia Tenggara, seperti Phil Collins, Lyra Garcellano, Craig Walsh, Takuro Kotaka dan lain-lain.
Iswanto Hartono, karyanya terpampang di teras Galeri Nasional Indonesia. Dia salah satu dari segelintir seniman kontemporer Indonesia, berlatar pendidikan formal arsitektur. Merespons tema Biennale, kali ini Iswanto Hartono mencoba memasuki persoalan Asia Tenggara dari elemen-elemen dan bangunan salah satu lokasi pameran yakni GNI.
Di dinding galeri itu ditempeli dengan foto kopi sebesar Gajah, sketsa lama bergambar kapal VOC di tanah air. Instalasi Zacht (Mellow, 2009), dibuatnya di ruangan lobi, terbangun atas beberapa komponen lampu gantung (candle layer), perputaran arus air, pererakan kapal-kapal mainan, sruktur talang memusatkan ke muara. Cetakan illustrasi kolonial diperbesar. Semua itu dimaksudkan sebagai aspek-aspek simbolik, secara menyeluruh membentuk suatu representasi kondisi ”kanal” di Asia Tenggara sejak masa kolonial, hingga sekarang.
Dua karya Thaweesak Srithongdee dalam Biennale ini merupakan bagian dari proyek tunggalnya Strawberry (2008), berbicara mengenai luka dan perang dalam sejarah peradaban manusia. Strawberry, metapor tentang masa muda manusia yang penuh kesegaran dan kebebasan, sekaligus berpotensi membusuk dengan mudah. Dia mencontohkan bagaimana sistem ekonomi kapitalistik global menargetkan para remaja di dunia sebagai konsumen pasar terbesar, bisa dianalogikan sebagai sebuah ”penderitaan perang” yang mereka harus hadapan di masa damai. Dalam beberapa lukisannya, figur-figur manusia berpandangan kosong dan polos, ternyata membawa bebatan luka di beberapa badannya.
Dalam narasi Thaweesak, remaja kini menghadapi situasi perang berbeda dengan generasi sebelumnya. Dalam video berdurasi 20 menit, tampil dalam Biennale, gambaran remaja polos dan bercampur baur dengan ikon-ikon perang dalam sejarah- Saddam Husein, Osama bin Laden, Adolpf Hitler-dan ikon pop abad ke 21 seperti Kurt Cobain, Paris Hilton, dan Britney Spears.
Coba perhatikan pula gambar Serrum, berjudul DI ATAS LEGA, BERTARUH NYAWA. Suatu pemandangan yang hampir selalu terlihat di atas kereta api jurusan stasiun Pasar Minggu, Kebayoran dan stasiun Tanah Abang.
Kereta ekonomi di Jakarta, tak hanya terkenal penuh sesak dalam kereta, juga di atapnya. Sekalipun berbahaya, banyak orang naik ke atap karena isi kereta yang penuh. Sudah banyak korban. Baik yang terjatuh, terbentur tembok jembatan, tersengat listrik aliran atas, bahkan jebol di atap kereta api.
Pihak kereta api, tak juga bisa menyediakan fasilitas kereta api yang lebih baik. Dari perbaikan kualitas kereta sampai penambahan kereta, hanya bisa melakukan segala cara untuk mengusir penumpang dari atap kereta. Dari menyemprot penumpang bandel dengan air pewarna, menangkap dan menggunduli pelaku, menyiram atap dengan oli, memasang paku, pengahalau, bahkan kawat berduri. Tak satupun berhasil. Serrum, salah satu dari pengguna kereta yang tak hanya resah dengan fenomena itu, namun juga khawatir suatu saat atap di atas kepala mereka bisa saja roboh seperti kecelakaan di kereta api jurusan Rangkasbitung-Jakarta pada 2006. Mereka tak beprikir, apapun yang mereka lakukan, bisa mengatasi masalah menahun dengan banyak faktor penyebab. Mereka membuat karya dari fenomena itu. Sebuah komedi/satir komik, dibagikan kepada penumpang kereta api di sejumlah stasiun yaitu: stasiun Pasar Minggu, Kebayoran, dan Cawang pada jam-jam ramai. Mereka juga memproduksi kaos dan mengadakan pameran komik di stasiun Jakarta Kota. Serrum, organisasi seniman, bekerja dalam lingkup pendidikan, didirikan mahasiwa Universitas Jakarta tahun 2006.
Sesungguhnya masih banyak gambar lain yang memukau dan mampu membuat kita merenung. Betapa pameran ini menggambarkan rona-rona kehidupan keseharian dari insan di delapan penjuru, juga seperti kita alami. Sebagaimana dijadualkan di akhir Perhelatan Senirupa Internasional, kita masih saksikan pagelaran Koreografi Kota di Zebra Cross Sarinah: Beberapa penari menggunakan pakaian sama: kemeja putih dililit pita hitam, celana legging motif belang dan penutup kepala warna hitam putih. Saat lampu hijau menyala, mobil melaju menerjang jalan. Mereka terdiam dan sabar menunggu. Di saat lampu merah menyala, mereka segera beraksi: melenggang, berjingkrak dan meliuk-liuk. Luar biasa bukan?
Kegiatan sangat menarik perhatian pengguna jalan, dilakukan di atas garis zebra cross di perempatan Sarinah, Jalan M. H. Thamrin, Jakarta Pusat, Jumat sore lalu. Mereka menari sambil membawa tanda verbodden atau stop di tangan masing-masing. Z. C. (zebra cross) -begitu judul tari garapan seniman Solo, Boby Ari Setyawan ini, berhasil mencuri perhatian pengendara mobil dan pejalan kaki. Demikianlah Gelar Koreografi Kota, mementaskan tari di tempat-tempat umum. Acara ini melibatkan empat koreografer dan sejumlah penari pada pentas di tempat berbeda.
”Saya ingin mencari hal baru. Gerak diolah untuk ekspresi seniman dan mewakili kegelisahan terhadap sekeliling,” kata Boby tanpa peduli dengan keringat bercucuran namun tetap semangat.
sumber : http://www.analisadaily.com/index.php?option=com_content&view=article&id=10434:jakarta-biennale-2009perhelatan-senirupa-internasional-sangat-fenomenal-di-masa-kekinian&catid=248:28-maret-2009&Itemid=209

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

LUKISAN KARYA SENI TERMAHAL DI DUNIA

Oleh Maulana Syamsuri
Sungguh luar biasa!. Sebuah lukisan karya Andrien Jean Le Mayeur de Merpres berjudul Women around the Lotus Pond terjual dengan harga Rp 3,2 milyar pada sebuah lelang di Galeri Borobudur Jakarta. Para pengamat seni rupa menyebutnya sebagai hammer prices.
Padahal sesaat sebelum acara lelang dimulai, ketika lukisan itu dibawa ke ruang lelang beredar provokasi, bahwa lukisan karya Le Mayeur itu palsu. Dewan rumah lelang itu tidak ingin pelelangan itu kehilangan pamor lalu buru-buru mengeluarkan pernyataan, bahwa tidak ada satupun lukisan-lukisan yang dilelang di Borobudur palsu. Tergiur bahwa harga lukisan di berbagai galeri dan biro lelang yang setinggi langit, maka sejak bertahun-tahun yang silam, di Jakarta bermunculan biro lelang dan galeri lukisan.
Di tahun 1950, lahir sebuah studio seni lukis yang digagas oleh Tjio Tek Djien, pecinta dan sekali gus pialang lukisan. Gagasan itu timbul atas saran Presiden pertama RI Ir.Soekarno yang sangat terkenal amat mencintai lukisan baik lukisan karya pelukis-pelukis terkemuka mancanegara maupun karya pelukis Indonesia sendiri. Banyak pelukis Indonesia yang bekerja pada sanggar milik lelaki bermata sipit yang bernama Tjio Tek Djien itu dan tidak jarang di antara pelukis-pelukis itu dipengaruhi untuk memalsukan lukisan karya pelukis terkemuka di dunia.
Sejak saat itu muncul reproduksi lukisan karya pelukis terkenal jaman Hindia Belanda maupun Indonesia, seperti Le Mayuer, Auke Sonnega, Kees van Dongen, Romualdo Locatelli hingga GP Adolfs. Di kabarkan bahwa reproduksi lukisan ternama itu sebagian besar di distribusikan di Sanur Bali.
Pemalsuan lukisan semakin marak.
Di era tahun 2000 hingga saat ini pemalsuan lukisan semakin marak ketika di republik ini memasuki “era biro lelang”, apa lagi sejak tahun 2002, biro lelang seni rupa mendapatkan angin segar berupa peluang sangat luas yang amat luar biasa. Dan harga lukisanpun menjulang tinggi. Di tahun 1990-an Indonesia hanya mempunyai biro lelang Larasati dan Balindo sebagai mitra biro lelang Christie’s dan Sotheby’s yang melakukan lelang di Singapura dan Hongkong. Hingga kini bermunculan bermunculan biro lelang lukisan dan galeri ,seperti Geleri Darga di Sanur Bali, Borobudur, Galeri Nasional. Cempaka, Masterpiece dan Sidharta Artfordable, Treasure dan lain-lain. Lewat berbagai pameran dan pelelangan selalu terjual lukisan hingga mencapai tidak kurang dari Rp.80. milyar rupiah hanya untuk 15 kali pelelangan.
Terkonsentrasi di Jawa dan Bali.
Daerah-daerah lain tidak harus merasa iri, kalau hingga saat ini arena wacana dan kekaryaan seni rupa modern, terutama lukisan, masih terkonsentrasi di Pulau Jawa dan Bali. Seiring dengan sifatnya yang khas dan cukup laten, bahwa seni rupa modern umumnya berlangsung di walayah urban, maka konsentrasi keberadaan perkembangan lukisan tumbuh di kota-kota besar , terutama di Jawa seperti Jakarta, Bandung , Yogyakarta dan Surabaya serta Bali. Jakarta sebagai kota metropolitan menjadi pusat informasi, sirkulasi dan peluang pasar seni rupa secara ekonomi. Tidak mengherankan, sebagian besar pelukis dan perupa Indonesia dari dekade ke dekade melakukan urbanisasi ke Jakarta maupun kota-kota lainnya di Jawa dan Bali.
Seperti diketahui, bahwa di republik ini kebangkitan seni rupa modern kita dengan diawali oleh era Raden Saleh dan pelukis Hindia Belanda pada abad ke 19. Disusul oleh era Bataviasch Kunstkring pada perempat abad 20, kemudian tercatat era Persagi atau Persatuan Ahli-ahli gambar Indonesia di tahun 1938 hingga 1942.
Disusul era jaman Jepang 1942-1945, kemudian era Indonesia Merdeka dan kesanggaran di tahun 1945-1955, diteruskan era “Politik sebagai Panglima Seni “di tahun 1955-1965. Era kebebasan kreatif tercatat di tahun 1960-1980-an. Terakhir dikenal era “ekonomi sebagai panglima” dan era “Wacana sebagai profil seni rupa Indonesia” yang diawali tahun 1980-an hingga kini.
Lukisan Le Mayeur terjual Rp10 milyar.
Sangat mengejutkan pada sebuah pameran dan lelang lukisan di Hongkong, sebuah lukisan karya Le Mayeur terjual dengan harga Rp.10 milyar. Dan siapa gerangan kolektor yang berani membeli sebuah lukisan dengan harga semahal itu?. Dia adalah orang Indonesia! Semntara itu pada pelelangan l,ain, lukisan karya Jean Michel Basquiat , seorang pelukis kenamaan dari Puerto Rico Haiti yang di Amerika dikenal sebagai “The Angry Young Black Man” terjual dengan harga lima puluh dolar Amerika dan pada kesempatan berikutnya harga itu melonjak hingga ke langit seharga 3 juta dolar.
Wajarlah bila untuk mengangkut 14 lukisan karya Basquiat dari Meksiko ke Bali pialang lukisan yang membawanya harus ekstra hati-hati. Tiga lukisan pelukis kenamaan ini masing-masing “Heaven” (1985), “Becouse It Hurts The Lungs” (1986) dan “Untitled” (1988) terjual di Bali hingga mencapai l0 milyaran rupiah. Diboyongnya lukisan karya pelukis kondang itu dalam rangka pameran dan lelang di Bali. Dan ternyata lukisan karya pelukis kelas dunia itu laku dengan harga berkisar 5 hingga l0 milyar rupiah.
Basquiat sebenarnya lahir di Puerto Rico Haiti dan dijuluki The Angry young black man, namun ia selalu bergadang di Brooklyn New York dan mencorat-coret dinding dengan kata-kata satire berinisial SAMO (Same Old Shit). Bassquiat bukan sembarang orang hitam, sebab darah Perancis mengalir dalam tubuhnya. Gayanya memang khas, seperti kaum aristokrat pinggiran. Foto-foto dirinya yang dalam posenya selalu urakan dan rambutnya dikucir selalu dipajang pada setiap pameran lukisannya.. Sayang sekali pelukis kondang ini mati muda, dalam usia 28 tahun (1960-1988).
JaisDargawijaya adalah pialang lukisan yang sangat berani memikul risiko tinggi memboyoang lukisan asli karya Basquiat. Ia adalah pemilik galeri di Bali dan Paris. Tokoh inipun sering ulang-alik Jakarta Paris atau London untuk urusan corat-coret di kanvas. Dia juga selalu auction di New York, London, Paris dan pernah memamerkan karya pelukis kelas dunia seperti Picasso dan Mattiese.
Kerja sama Perpusnas dan Rijksmuseum Amsterdam
Menyadari akan harga lukisan karya pelukis terkenal di dunia, Perpustakaan Nasioanal R.I di Jakarta telah menjalin kerja sama dengan Rijksmuseum Amsterdam dalam rangka melestarikan warisan budaya bangsa. Kerja sama ini ditandatangni pada tahun 1995. Sebagai museum terbesar di Belanda Rijksmuseum memiliki 40 lukisan karya Johannes Rach yang hidup di tahun 1720-1783.
Pada saat ini pecinta lukisan dapat melihat repoduki lukisan karya pelukis Rach.di Perpustakaan Nasional R.I. Saat ini di Perpustakaan Nasional RI tersimpan dengan baik reproduksi lukisan sebanyak 202 buah. Pihak Erasmus Huis di Jakarta sangat mendukung kesepakatan ini untuk pelestarian warisan budaya bangsa.
Pameran lukisan karya Racht sudah dipamerkan diberbagai negara seperti Jepang, Singapura, Afrika Selatan dan Inggris. Johannes Rach adalah pelukis terkenal berkebangsaan Belanda di masa kolonial.
Selain Rijksmuseum Amsterdam, pihak British Library juga telah menyumbangkan reproduksi koleksi lukisan lain maupun karya-karya seni rupa berupa arkeologi Indonesia, seperti candi, patung, keris dan sebagainya.
Disamping itu Perpustakaan Nasional RI juga memiliki peta yang dibuat di tahun 1669 hingga sekarang. Jenis koleksi peta yang tersedia meliputi topografi, geologi, kemampuanm tanah, pertambangan, pertanian dan sejarah. Media yang digunakan adalah berupa kain, kertas dan plasik.
Karya Sastra belum semahal lukisan
Kalau harga lukisan mencapai milyaran rupiah perbuah, bagaimana dengan karya seni lainnya. Memang tidak sehebat itu. Yang pasti karya sastra jauh di bawah harga sebuah lukisan Basquiat atau Le Mayeur. Novel-novel hasil karya pengarang peraih nobel sekalipun belum dihargai masyarakat setinggi itu.
Ernest Hamingway (1899-1961) adalah pengarang yang sangat terkenal dan pernah mendapatkan hadiah Pullitzer di tahun 1953 dan peraih anugerah novel untuk kesusastraan di tahun berikutnya, belum tentu bukunya berharga setinggi itu. Demikian juga dengan Toni Marrison, pengarang perempuan dari negeri Paman Sam ,peraih hadiah nobel kesustraan di tahun 1993.
Masih banyak lagi pengarang kelas dunia yang pernah mendapatkan hadiah Nobel ,seperti sastrawan berdarah China Gao Xingjian yang diusir dari negaranya lalu hijrah ke Paris yang akhirnya meraih anugerah Nobel di tahun 2000 dan sebelumnya sastrawan Rusia Alexsander Solzhenitsyn yang meraih nobel di tahun 1970, buku-buku mereka belum tentu berharga semahal itu.
Apalagi novel dan sastra di daerah Sumatera Utara saat ini, sungguh sangat lesu, dan hampir kehabisan nafas, sehingga keadaannya seperti gurem yang merayap dalam kain sutera berwarna merah, geliatnya tidak terlihat oleh kasat mata.
Penulis adalah novelis dan pemerhati karya-karya seni
sumber : http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&task=view&id=14830&Itemid=55

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS